
Pernahkah kamu merasa bingung di tengah jalan saat menjalani karir? Atau mungkin, kamu sering bertanya-tanya, "Sebenarnya aku ini cocoknya jadi apa, ya? Lebih baik jadi spesialis yang ahli satu bidang, atau generalis yang bisa banyak hal?"
Kalau pertanyaan-pertanyaan itu sering mampir di kepala sebelum tidur, kamu tidak sendirian. Faktanya, kebingungan ini adalah hal yang sangat wajar. Bahkan, Fellexandro Ruby, penulis buku You Do You yang akan kita bahas kali ini, menghabiskan satu dekade pertamanya untuk bereksperimen dengan sembilan peran berbeda sebelum akhirnya menemukan "klik"-nya.
Buku ini bukan sekadar motivasi kosong, melainkan sebuah peta jalan bagi kamu yang sedang mencari jati diri. Mari kita bedah poin-poin pentingnya agar kamu bisa langsung mempraktikkannya.
Apa Inti Utama dari Buku You Do You?
Secara garis besar, buku ini menjawab pertanyaan fundamental: Who are you? (Siapa kamu?).
Premis utamanya sederhana namun menohok: Segala sesuatu dalam hidupmu—karir, bisnis, keuangan, hingga hubungan asmara—berakar dari pengenalan akan diri sendiri.
Seringkali kita iri melihat pencapaian orang lain di media sosial. Kita ingin meniru jalan sukses mereka. Padahal, seperti kata pepatah yang tersirat dalam buku ini, "Sepatu milik orang lain belum tentu cocok di kaki kita." Semakin kamu paham diri sendiri (memiliki self-awareness), semakin mudah kamu menjawab jalan karir mana yang harus dipilih.
Berikut adalah struktur 5 Bab utama dalam buku You Do You:
Bertemu dengan Diri Sendiri: Membangun fondasi kesadaran diri.
Bertemu dengan Ikigai: Menemukan titik temu antara apa yang kamu suka, bisa, dan butuhkan.
Design Your Life: Merancang hidup sesuai keinginanmu.
Building Your Network: Pentingnya jejaring pertemanan.
Principle: Prinsip-prinsip hidup yang pegang teguh.
Namun, dalam artikel ini, kita akan menyelami lebih dalam bagian yang paling krusial: Self-Awareness atau seni mengenal diri sendiri.
Mengapa Self-Awareness Itu Penting?
Berdasarkan berbagai penelitian, orang yang memiliki self-awareness tinggi cenderung lebih percaya diri dan dewasa dalam mengambil keputusan. Sayangnya, mengenal diri sendiri itu butuh latihan panjang. Apalagi di era sekarang, fokus kita sering teralihkan oleh notifikasi media sosial yang tiada henti.
Alih-alih bertanya ke dalam diri, kita sibuk melihat keluar. Nah, buku ini memberikan 5 alat bantu atau konsep untuk melatih pengenalan diri tersebut. Apa saja?
1. Memahami Tiga Jenis Kebenaran (The Three Truths)
Dalam melihat dunia dan diri sendiri, kita sering bias. Ruby membagi "kebenaran" menjadi tiga lapisan yang perlu kamu pahami agar pikiranmu lebih jernih:
Personal Truth: Ini adalah kebenaran subjektif yang dipengaruhi oleh bias personal. Hal ini tertanam sejak kecil, dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, latar belakang keluarga, agama, suku, dan budaya. Contohnya, jika kamu dibesarkan di keluarga yang mewajibkan jadi PNS, kamu mungkin menganggap pekerjaan lain tidak aman. Padahal itu hanya personal truth kamu.
Political Truth: Sesuatu yang mungkin kurang akurat, tapi sudah terlanjur diterima oleh publik sebagai kebenaran.
Contoh Kasus: Jika ditanya siapa penemu bohlam, kamu pasti menjawab Thomas Alva Edison. Padahal, jika kita kritis dan mengulik sejarah (masuk ke Objective Truth), ada penemu bernama Joseph Swan yang lebih dulu mencatat patennya sebelum Edison. Namun, nama Edison lebih "politis" dikenal.
Objective Truth: Kebenaran mutlak yang bisa dibuktikan secara ilmiah dan diuji berulang kali.
Latihannya adalah: Coba pilah keyakinanmu saat ini. Mana yang benar-benar fakta, dan mana yang hanya bias masa kecilmu?
2. Menemukan Cara Belajar yang Tepat
Pernah merasa sudah baca buku tapi besoknya lupa? Tenang, itu manusiawi. Buku ini mengutip Getting Craft atau Kurva Lupa dari Hermann Ebbinghaus.
Faktanya, dalam waktu 24 jam, otak manusia hanya mengingat sekitar 30% informasi yang baru dipelajari. Sisanya hilang begitu saja.
Solusinya?
Pengulangan Rutin: Luangkan waktu 10 menit setiap hari untuk me-review catatan atau informasi penting hari itu.
Kenali Gaya Belajarmu: Apakah kamu tipe Visual (gambar), Auditori (suara), atau Kinestetik (gerak)? Atau mungkin kamu tipe yang harus membaca sambil menulis? Eksperimenlah untuk menemukan gaya belajarmu sendiri.
3. Mindset Eksperimen vs Aturan 10.000 Jam
Kamu mungkin pernah mendengar teori dari Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers, yang berkata kamu butuh 10.000 jam latihan untuk menjadi ahli.
Menurut Fellexandro Ruby, pernyataan ini seringkali bikin mental down duluan. "Waduh, 10.000 jam lama banget, kapan jagonya?"
Di buku You Do You, pendekatannya sedikit digeser menjadi Mindset Eksperimen. Latihan itu penting, tapi jangan latihan "buta".
Jangan sampai kamu menghabiskan 10.000 jam melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang tanpa perbaikan. Itu bukan belajar, itu konyol.
Jadikan kegagalan sebagai data. Kalau gagal, evaluasi: "Bagian mana yang salah? Apa yang harus diperbaiki?"
Jadilah orang yang haus pengalaman. Coba, gagal, evaluasi, coba lagi.
4. Mengelola Jam Produktif (Smart Hours)
Manajemen waktu itu bukan tentang bangun jam 4 pagi karena CEO Apple melakukannya. Manajemen waktu adalah tentang mengenali Jam Pintar (Smart Hours) dan Jam Bodoh versi kamu sendiri.
Jam Pintar: Kapan otakmu paling encer? Apakah saat subuh, pagi hari setelah mandi, atau justru tengah malam saat sunyi? Gunakan jam ini untuk mengerjakan tugas terberat dan terpenting.
Rutinitas & Buffer: Buat jadwal harian, tapi sediakan waktu cadangan (buffer) untuk hal-hal tak terduga. Jangan isi jadwalmu terlalu padat sampai tidak bisa bernapas. Sediakan juga waktu untuk recharge diri sendiri.
5. Fokus dengan "Rule of Three"
Sering merasa sibuk tapi tidak produktif? Mungkin kamu kehilangan fokus. Buku ini mengenalkan konsep Rule of Three (Aturan Tiga).
Tujuannya adalah merampingkan target besar menjadi hal yang bisa dieksekusi.
Caranya: Setiap minggu atau setiap hari, tentukan HANYA TIGA hal utama yang ingin kamu selesaikan.
Pilih 3 hal yang memiliki dampak terbesar (kontribusi 80%) terhadap kesuksesan targetmu.
Meskipun awalnya sulit memangkas to-do list, cara ini melatihmu untuk memprioritaskan kualitas daripada kuantitas.
Kesimpulan: Jangan Takut Ganti Haluan
Salah satu pesan paling menenangkan dari buku ini adalah validasi bahwa tidak apa-apa untuk mencoba karir lain.
Banyak orang merasa "sayang" dengan gelar kuliahnya atau pengalaman kerja sebelumnya jika harus banting setir. Padahal, menurut Ruby, tidak ada yang sia-sia. Daripada menyesal di masa tua karena terjebak di pekerjaan yang tidak kamu nikmati, lebih baik mencoba sekarang.
Proses menemukan Ikigai (alasan keberadaan/tujuan hidup) memang tidak instan. Mungkin kamu perlu mencoba peran A, lalu pindah ke peran B, sebelum akhirnya menemukan peran C yang merupakan gabungan keunikanmu. Itu adalah proses yang sehat.
Jadi, berhentilah membandingkan progresmu dengan teman seangkatan. Fokuslah pada eksperimen hidupmu sendiri. Kenali cara belajarmu, temukan jam pintarmu, dan susun prioritasmu.
Tags:
Bahas Buku