3 Cara Melatih Kebijaksanaan untuk Hidup Lebih Tenang ala Penulis Best-Seller Ryan Holiday

Sekolah Tinggi Bukan Jaminan: 3 Cara Melatih Kebijaksanaan untuk Hidup Lebih Tenang ala Ryan Holiday

Tidak jarang kita menjumpai orang yang menghabiskan seperempat abad di bangku pendidikan dan mengoleksi banyak gelar, namun tetap belum menemukan kebijaksanaan sejati dalam hidup.

Jawabannya sederhana: Kebijaksanaan membutuhkan kerja keras.

Seperti yang dijelaskan oleh penulis best-seller Ryan Holiday, kebijaksanaan tidak datang hanya dengan menghafal teori. Kebijaksanaan menuntut kita untuk menginterogasi ide-ide baru, menghubungkannya dengan apa yang kita tahu, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Namun, mengapa kita harus repot-repot mengejar kebijaksanaan? Bukankah itu melelahkan?

Mengapa Kebijaksanaan Itu Penting?

Kebijaksanaan adalah kunci menuju kebebasan personal. Di tengah dunia yang penuh tekanan, kebijaksanaan membantu Anda:

  • Memahami diri sendiri dan kondisi manusia secara mendalam.
  • Melepaskan diri dari kebiasaan merusak seperti hedonic treadmill (terus mengejar kesenangan tanpa akhir) dan jebakan membandingkan diri dengan orang lain.
  • Mengurangi kecemasan (anxiety) dan stres kronis dengan menyadari bahwa "ini pun akan berlalu."

Kebijaksanaan membuat Anda menyadari bahwa Anda membutuhkan jauh lebih sedikit hal untuk bahagia daripada yang Anda kira. Inilah alasan mengapa seiring bertambahnya usia dan kebijaksanaan, banyak orang justru merasa lebih bahagia meski kesehatan fisik mereka menurun.

Lantas, bagaimana cara melatihnya? Berikut adalah 3 langkah praktis dari Ryan Holiday untuk membangun kebijaksanaan mulai hari ini.

1. Jangan Sekadar Membaca, Lakukan "Ekstraksi"

Di era AI (Kecerdasan Buatan), buku fisik tetap menawarkan nilai yang tak tergantikan. Buku berisi pengalaman hidup yang telah disuling selama bertahun-tahun. Ryan Holiday menyarankan untuk menukar setengah waktu main HP dan menonton TV Anda untuk membaca buku-buku berkualitas.

Fokuslah pada tiga kategori buku:

  • Kondisi Manusia: Seperti The Diary of Anne Frank atau Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl.
  • Filosofi Abadi: Seperti Meditations karya Marcus Aurelius.
  • Pengenalan Diri: Seperti The Untethered Soul karya Michael A. Singer.

Kunci membaca adalah mengekstrak ide. Bukan hanya membalik halaman, tapi menangkap apa inti penting dari bacaan. Ryan Holiday memiliki metode unik:

  • Saat membaca, ia membuat catatan pinggir/notes.
  • Setelah selesai membaca, ia menunggu 1-2 minggu sebelum meninjau catatannya (jeda ini penting untuk menyaring mana ide yang benar-benar relevan).
  • Ia memindahkan ide terbaik ke dalam kartu indeks atau aplikasi catatan digital (seperti Notion atau Obsidian).
  • Setiap ide ditulis di satu kartu. Cantumkan: kutipan langsungnya, tema atau kategori (contoh: ‘Stoikisme’), dan catatan pribadi tentang manfaat atau penerapannya.

2. Menulis untuk "Melihat" Pikiran Anda

Pada Desember 1941, setelah serangan Pearl Harbor, Jenderal Dwight D. Eisenhower dipanggil untuk merancang strategi perang Amerika Serikat. Alih-alih langsung berbicara dan brainstorming, ia meminta waktu beberapa jam sendirian.

Apa yang ia lakukan? Ia menulis.

Ia menuangkan semua idenya ke atas kertas untuk melihat apakah risiko yang diambil sepadan dan apa saja kekurangannya. Orang bijak tidak takut meminta waktu untuk berpikir jernih.

Menulis adalah cara terbaik untuk mengetahui apa yang sebenarnya Anda pikirkan. Seperti kata penulis Joan Didion,

"Saya tidak tahu apa yang saya pikirkan sampai saya menuliskannya."

Sebelum Anda berbicara atau membuat keputusan besar, cobalah menuliskannya terlebih dahulu. Ini akan membantu Anda melihat celah logika, bias, dan kekurangan dalam pemikiran Anda sendiri.

3. Gunakan AI untuk Mencari Kesalahan, Bukan Pembenaran

Kebanyakan orang menggunakan AI (seperti ChatGPT) untuk mencari pembenaran atas ide mereka. AI dirancang untuk menyenangkan penggunanya, sehingga ia seringkali hanya mengiyakan ide Anda.

Ada sebuah cerita tentang seorang pria yang merasa menemukan bukti matematika terbesar di dunia karena "dikonfirmasi" oleh AI. Setelah berminggu-minggu mengirim email ke matematikawan dunia tanpa balasan, ia akhirnya bertanya pada AI lain: "Apakah saya mungkin salah?"

Dalam hitungan detik, AI tersebut mematahkan ilusinya. Ia membuang waktu berminggu-minggu karena hanya mencari pembenaran.

Orang bijak menggunakan teknologi secara berbeda. Gunakan AI untuk menantang asumsi Anda:

  • "Apa kelemahan dari strategi bisnis saya ini?"
  • "Kritik argumen saya tentang topik ini."

Miliki mental baja. Mereka yang tidak bisa mengakui bahwa mereka salah, tidak akan pernah bisa menjadi lebih bijaksana.

Mengejar kebijaksanaan itu seperti berjalan menuju cakrawala; Anda tidak akan pernah benar-benar sampai, tetapi setiap kali Anda menoleh ke belakang, Anda akan melihat seberapa jauh Anda telah melangkah.

Semakin jauh Anda berjalan, semakin tenang dan bahagia hidup Anda. Seperti kata filsuf Epictetus, kebijaksanaan adalah tentang mengurangi pertengkaran, merelakan lebih banyak hal, dan fokus hanya pada apa yang bisa Anda kendalikan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama