
Pernahkah kamu merasa hari-harimu mendadak cerah hanya karena foto yang kamu unggah di Instagram mendapat ribuan like? Sebaliknya, apakah kamu pernah merasa insecure atau sedih seharian karena postinganmu sepi tanggapan, atau karena seseorang memberikan komentar miring tentang penampilanmu?
Kita sering meletakkan kunci kebahagiaan kita di saku orang lain. Kita merasa lebih berharga saat disukai dan dipuji. Namun, buku fenomenal The Courage to Be Disliked (Berani Tidak Disukai) karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga menampar kita dengan satu kenyataan pahit namun membebaskan: Kebahagiaan sejati tidak akan pernah tercapai selama kita masih hidup demi memenuhi ekspektasi orang lain.
Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana kamu bisa membebaskan diri dari belenggu pandangan orang lain berdasarkan teori psikologi Alfred Adler yang dibahas dalam buku tersebut.
Apa Itu Kebahagiaan Menurut Psikologi Adler?
Secara fundamental, dalam pandangan Alfred Adler yang dituliskan kembali oleh Ichiro Kishimi, kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu pilih sendiri, bukan sesuatu yang diberikan oleh orang lain atau lingkungan.
Kebahagiaan bukanlah hasil akhir dari nasib baik, melainkan hasil dari keberanian. Buku yang telah terjual lebih dari 3,5 juta eksemplar ini menegaskan bahwa kita memiliki kekuatan penuh untuk menentukan arah hidup, terlepas dari trauma masa lalu atau beban ekspektasi lingkungan.
Berikut adalah poin-poin kunci mengapa kamu berhak bahagia sekarang juga:
Kamu tidak dikendalikan oleh masa lalu.
Kamu tidak hidup untuk memuaskan orang lain.
Kamu berhak untuk tidak disukai demi mempertahankan prinsipmu.
Apakah Masa Lalu Menentukan Masa Depan Kita?
Banyak dari kita percaya bahwa "Aku begini karena masa kecilku begitu". Namun, Adler menolak keras pandangan ini.
1. Menolak Teori Trauma
Berbeda dengan Sigmund Freud yang percaya bahwa luka batin masa lalu menyebabkan ketidakbahagiaan masa kini, Adler memperkenalkan konsep teleologi (tujuan). Menurutnya, trauma secara definitif tidak diterima sebagai penentu nasib.
Bukan berarti pengalaman buruk di masa kecil tidak berpengaruh. Pengaruhnya tentu kuat. Namun, kamu tidak ditentukan oleh pengalamanmu, melainkan oleh arti yang kamu berikan pada pengalaman tersebut.
2. Kamu yang Memegang Kendali
Contoh sederhananya begini: Dua orang sama-sama mengalami kegagalan bisnis yang parah.
Orang A berpikir: "Ini bukti aku tidak bakat, aku trauma bisnis." (Menjadikan masa lalu alasan untuk berhenti).
Orang B berpikir: "Ini pelajaran mahal supaya aku tidak mengulangi kesalahan yang sama." (Memberi makna positif untuk maju).
Persoalannya bukan pada apa yang terjadi, tetapi bagaimana kamu menyikapinya. Jika kamu terus memilih tinggal di kubangan masa lalu, kamu tidak akan pernah bisa melangkah maju. Hidupmu hari ini adalah hasil pilihanmu sendiri, bukan paksaan masa lalu.
Mengapa Kita Selalu Ingin Menjadi Orang Lain?
Salah satu sumber ketidakbahagiaan terbesar adalah ketidakmampuan mencintai diri sendiri. Sering kali kita berpikir, "Seandainya aku terlahir kaya seperti dia" atau "Seandainya aku secantik dia, pasti aku bahagia."
Faktanya, kamu tidak akan pernah merasa benar-benar bahagia jika kamu masih ingin menjadi orang lain. Mengapa? Karena keinginan itu adalah tanda bahwa kamu menolak dirimu sendiri.
Penerimaan Diri (Self-Acceptance): Kamu tidak perlu menjadi sempurna atau narsis dengan berteriak "Aku hebat!". Cukup terima dirimu apa adanya.
Fokus pada Apa yang Bisa Diubah: Ada hal yang tidak bisa diubah (seperti orang tua atau ras), dan ada yang bisa diubah (pola pikir dan usaha). Fokuslah mengubah apa yang bisa kamu ubah.
Ingat, kondisi kelahiran atau lingkungan memang bisa berbeda (ada yang privilege, ada yang tidak). Namun, jika kamu tidak bahagia, itu karena kamu memutuskan bahwa "menjadi tidak bahagia" adalah pilihan yang paling aman bagimu saat ini agar tidak perlu bersusah payah berubah.
Jebakan Hubungan Interpersonal: Berhenti Mencari Pengakuan
Adler menegaskan sebuah kalimat yang sangat kuat: Semua persoalan adalah tentang hubungan interpersonal. Masalah muncul karena kita terlalu sibuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita.
Bahaya Hidup untuk Ekspektasi Orang Lain
Kita sering terjebak dalam pola asuh reward and punishment (hadiah dan hukuman). Kita berpikir, "Kalau aku melakukan hal baik, aku harus dipuji."
Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari: Kamu melihat sampah di jalan.
Jika kamu mengharapkan pujian, kamu mungkin memungutnya hanya saat ada orang yang melihat.
Jika tidak ada yang memuji, kamu merasa kesal dan memutuskan tidak mau lagi peduli lingkungan.
Inilah bahayanya mencari pengakuan. Kamu tidak hidup untuk memuaskan ekspektasi orang lain. Jika kamu terus hidup demi pujian, kamu sedang menjalani hidup orang lain, bukan hidupmu sendiri. Kamu akan kehilangan keyakinan diri dan selalu cemas terhadap penilaian orang.
Perasaan Inferior vs Superior
Merasa "kurang" (inferior) itu wajar. Justru, perasaan inferior yang sehat bisa menjadi cambuk motivasi untuk bekerja lebih keras. Yang salah adalah jika kamu membandingkan dirimu dengan orang lain.
Kompetisi yang Sehat: Bandingkan dirimu hari ini dengan dirimu yang ideal di masa depan.
Kompetisi yang Salah: Menganggap hidup adalah persaingan menang-kalah dengan orang lain. Ini membuatmu melihat orang lain sebagai musuh atau rival, sehingga kamu sulit tulus mengakui kelebihan orang lain.
Di Mana Letak Kebahagiaan Sesungguhnya?
Jika tidak boleh mencari pengakuan, lalu dari mana kita mendapatkan rasa bahagia? Jawabannya adalah Kontribusi.
Kebahagiaan sejati muncul ketika kamu merasakan "Aku berguna bagi orang lain". Perasaan berkontribusi ini adalah satu-satunya hal yang memberi kesadaran bahwa dirimu bernilai.
Penting untuk dicatat: Kontribusi ini tidak harus "kelihatan" atau diakui orang.
Jika kamu membantu orang tua, jangan tunggu mereka bilang "terima kasih".
Rasa puas bahwa kamu telah meringankan beban mereka sudah cukup menjadi sumber kebahagiaanmu.
Jika kamu benar-benar merasa berkontribusi, kamu tidak lagi butuh pengakuan orang lain. Kamu sudah mengakui dirimu sendiri.
Langkah Konkret: Miliki Keberanian
Teori Adler sering disebut sebagai "Psikologi Keberanian". Mengapa? Karena untuk bahagia, kamu butuh keberanian yang besar.
Berani Menjadi Diri Sendiri: Terimalah kekuranganmu dan fokus pada kelebihan yang bisa dikembangkan.
Berani Tidak Disukai: Menjalani prinsip hidupmu mungkin membuat beberapa orang tidak suka. Itu bukan masalahmu, itu masalah mereka. Kebebasan sejati adalah ketika kamu tidak lagi takut dibenci orang lain demi menjadi dirimu sendiri.
Berani Melupakan Trauma: Putuskan hari ini bahwa masa lalumu adalah guru, bukan penjara.
Penutup
Kebahagiaan itu sederhana, tapi butuh nyali. Sering kali kita merasa "tidak mampu" bahagia, padahal sebenarnya kita hanya "kurang berani". Kita kurang berani menghadapi risiko dibicarakan orang, kurang berani keluar dari zona nyaman ketidakbahagiaan, dan kurang berani memutus rantai ekspektasi orang lain.
Mulai hari ini, cobalah untuk bertanya pada dirimu sendiri: "Apakah aku melakukan ini karena aku menyukainya, atau supaya orang lain menyukaiku?"
Hidupmu adalah milikmu. Jangan biarkan komentar orang lain di media sosial atau ekspektasi tetangga menyetir kebahagiaanmu. Kamu berhak bahagia dengan caramu sendiri, dengan keberanianmu sendiri.
Tags:
Bahas Buku