Bahas Buku : The Subtle Art of Not Giving a F*ck: Seni Bodoh Amat Demi Hidup Tenang



Apa Inti Buku Ini?

Buku The Subtle Art of Not Giving a Fck* (Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat) karya Mark Manson adalah antitesis dari buku motivasi konvensional. Inti utamanya adalah: kebahagiaan bukan didapat dari menghindari masalah atau selalu berpikir positif, melainkan dari kemampuan kita memilih masalah mana yang layak kita pedulikan dan mana yang harus diabaikan.

Manson mengajarkan bahwa manusia punya energi terbatas (yang ia sebut sebagai “fucks” atau kepedulian). Jika kamu mempedulikan segalanya—apa kata orang, macet di jalan, jumlah like di medsos—kamu akan kehabisan energi untuk hal yang benar-benar penting seperti keluarga, karier, atau nilai hidupmu

Mengapa “Berusaha Bahagia” Justru Membuatmu Tidak Bahagia

Pernahkah kamu merasa semakin kamu berusaha mengejar kebahagiaan, rasanya kebahagiaan itu justru makin jauh? Mark Manson menyebut fenomena ini sebagai The Backwards Law (Hukum Kebalikan).

Konsep ini menjelaskan sebuah ironi psikologis:Mengejar pengalaman positif itu sendiri adalah pengalaman negatif (karena kamu jadi sadar bahwa kamu kurang sesuatu).
Menerima pengalaman negatif justru adalah pengalaman positif (karena kamu menerima realitas apa adanya).

Di era media sosial seperti sekarang, kita sering dibombardir dengan standar hidup yang tidak realistis. Kita merasa harus selalu punya pekerjaan hebat, pasangan sempurna, dan liburan mewah. Akibatnya, kita merasa cemas karena merasa “tidak cukup”.

Buku ini menampar kita dengan realitas: hidup itu memang sulit dan penuh penderitaan (suffering). Itu fakta biologis. Rasa sakit fisik maupun emosional adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Jika kita terus-menerus membius diri dengan “positivitas palsu”, kita justru mematikan sinyal yang diperlukan untuk bertumbuh.

Jadi, berhentilah mencoba untuk selalu bahagia. Sebaliknya, belajarlah untuk nyaman dengan ketidaknyamanan.

Bagaimana Cara Menentukan Hal yang Pantas Kita Pedulikan?

Salah satu poin paling kuat dalam buku ini adalah tentang manajemen kepedulian. Bayangkan kepedulianmu adalah uang dengan jumlah terbatas. Kamu tidak bisa membelanjakannya untuk semua hal.

Manson menegaskan bahwa bersikap “bodo amat” bukan berarti menjadi orang yang acuh tak acuh atau apatis. Artinya adalah kamu nyaman menjadi berbeda dan hanya peduli pada hal yang selaras dengan nilai-nilaimu .

Untuk melakukan ini, kita perlu mengupas apa yang disebut Manson sebagai Self-Awareness Onion :

Lapisan Pertama: Memahami emosi kita (Misalnya: “Aku sedih”).
Lapisan Kedua: Bertanya mengapa kita merasakan emosi itu (Misalnya: “Aku sedih karena temanku punya mobil baru”).
Lapisan Ketiga: Menentukan nilai dasar (values) di balik emosi itu (Misalnya: “Apakah aku mengukur kesuksesan dari materi? Apakah itu nilai yang baik?”).

Nilai Buruk vs Nilai Baik

Manson membedakan dua jenis nilai yang sering kita pegang:Nilai Buruk (Shitty Values):Bergantung pada faktor eksternal (di luar kendali).
Contoh: Kesenangan sesaat (pleasure), kekayaan materi, harus selalu benar, dan popularitas.
Dampak: Membuatmu cemas dan rapuh.

Nilai Baik (Good Values):Berbasis realitas, konstruktif, dan bisa dikendalikan.
Contoh: Kejujuran, inovasi, kerendahan hati, membela diri sendiri, dan kepedulian pada keluarga dan orang lain.
Dampak: Membuatmu tangguh dan kuat mental.
Apa Perbedaan Antara Kesalahan (Fault) dan Tanggung Jawab (Responsibility)?

Ini adalah bagian yang sering disalahpahami, tapi sangat membebaskan jika kamu benar-benar mengerti. Mark Manson menekankan perbedaan besar antara “siapa yang salah” dan “siapa yang bertanggung jawab”.

Banyak kejadian buruk menimpa kita yang bukan kesalahan kita, tapi tetap menjadi tanggung jawab kita untuk meresponsnya.

Contoh Sederhana:Jika seseorang menaruh bayi di depan pintu rumahmu, itu bukan kesalahanmu. Tapi sekarang, bayi itu menjadi tanggung jawabmu (kamu harus memutuskan mau merawatnya atau lapor polisi).

Jika kamu diselingkuhi pasangan, itu bukan kesalahanmu. Tapi bagaimana kamu bangkit, menyembuhkan hati, dan memilih pasangan di masa depan adalah tanggung jawabmu.

Mentalitas korban (victim mentality) muncul ketika kita menolak tanggung jawab dan hanya fokus menyalahkan keadaan. Sebaliknya, mengambil tanggung jawab penuh atas reaksi kita terhadap segala hal—bahkan hal terburuk sekalipun—memberi kita kendali penuh atas hidup kita sendiri .

Bagaimana Mengatasi Rasa Malas dengan “The Do Something Principle”?

Bagi kamu yang sering menunda pekerjaan (procrastination) atau merasa buntu, Biasanya, kita berpikir alurnya seperti ini:

Kita menunggu “ilham” datang, baru merasa termotivasi, baru kemudian bekerja. Masalahnya, inspirasi itu jarang datang kalau ditunggu. Manson membalik konsep ini menjadi sebuah siklus tanpa akhir:

Ini disebut The Do Something Principle.

Jika kamu tidak punya motivasi, lakukan saja sesuatu—sekecil apa pun. Aksi kecil itu akan memicu inspirasi, yang kemudian memicu motivasi untuk melakukan hal yang lebih besar. Jangan menunggu mood enak untuk bergerak, tapi bergeraklah supaya mood jadi enak.
Contoh Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Supaya lebih mudah dipahami, mari kita lihat bagaimana prinsip buku ini bisa diterapkan dalam situasi nyata di Indonesia:Situasi

1: Terjebak Macet ParahRespon Lama: Marah-marah, klakson terus, update status mengeluh, bad mood seharian. (Membuang “fucks” untuk hal di luar kendali).

Respon Ala Manson: Terima bahwa macet adalah realitas Jakarta. Gunakan waktu itu untuk mendengarkan podcast atau sekadar bernapas. Kamu tidak peduli pada macetnya, tapi kamu peduli pada ketenangan pikiranmu.

Situasi 2: Melihat Teman Sukses di InstagramRespon Lama: Iri, merasa diri gagal, ingin beli barang mewah biar terlihat setara. (Nilai buruk: Materi & Perbandingan sosial).

Respon Ala Manson: Sadar bahwa kamu “tidak spesial” dan itu oke. Sadar bahwa temanmu juga punya masalah yang tidak dia post (seperti cicilan atau stres kerja). Fokus kembali pada progres hidupmu sendiri.

Situasi 3: Gagal dalam Bisnis atau KarierRespon Lama: Menyalahkan ekonomi, menyalahkan bos, merasa dunia tidak adil.

Respon Ala Manson: “Oke, ini sakit. Tapi kegagalan adalah jalan maju.” Gunakan rasa sakit itu sebagai data untuk memperbaiki strategi. Kegagalan bukan identitasmu, itu hanya bagian dari proses, belajar untuk lebih bijaksana ke depannya.

Kesimpulan: Siapa yang Wajib Membaca Buku Ini?

The Subtle Art of Not Giving a Fck* bukanlah buku yang akan mengelus kepalamu dan berkata “kamu hebat, kamu pasti sukses”. Buku ini justru akan menamparmu (dengan kasih sayang) dan berkata “kamu biasa saja, dan kamu akan mati, jadi berhentilah membuang waktu untuk drama yang tidak penting”.

Buku ini sangat cocok untuk kamu yang:Merasa lelah (burnout) karena berusaha menyenangkan semua orang.

Sering cemas memikirkan pendapat orang lain (overthinking).
Merasa hidupmu “kurang” dibandingkan orang-orang di media sosial.
Mencari bacaan self-development yang jujur, tidak menggurui, dan realistis.

Pada akhirnya, hidup yang baik bukan tentang menghindari masalah, tapi tentang menemukan masalah yang enak untuk dihadapi. Temukan beban yang rela kamu panggul, dan lupakan sisanya.

Apakah kamu sudah siap memilih dengan bijaksana kepedulianmu hari ini?

Jika kamu merasa artikel ini bermanfaat, cobalah mulai dari hal kecil: pilih satu hal hari ini yang biasanya membuatmu kesal, lalu katakan pada dirimu sendiri, “Ah, bodoh amat,” dan alihkan energimu ke hal yang membuatmu bertumbuh.

Selamat mencoba mempelajari seni bodoh amat!

Sumber Artikel : The Subtle Art of Not Giving a F*ck: Seni Bodoh Amat Demi Hidup Tenang



Post a Comment

Previous Post Next Post